Archive | serious-ly RSS feed for this section

Aku

1 Oct

Mencoba peruntungan dengan mengetik keyword ‘otobiografi’ ke dalam kolom mesin pencari google, ternyata berbuah manis. Dalam hitungan detik, kita bisa mengunduh otobiografi sosok yang telah dikenal khalayak. Diantaranya, dapat kita jumpai otobiografi dua mantan presiden Indonesia yang sama-sama mempunyai track record cukup lama duduk di kursi utama istana negara, yakni almarhum Kusno Sosrodihardjo atau yang lebih dikenal sebagai presiden Soekarno dan almarhum Jenderal Soeharto yang sampai saat ini otobiografinya masih menjadi pergunjingan.

Di belahan dunia yang lain pun, beberapa tokoh dari berbagai kalangan telah menerbitkan otobiografinya. Dari kalangan olahragawan ada ‘The Doctor’ Valentino Rossi. Dalam hal ini, Valentino Rossi cukup beruntung dibandingkan olahragawan Zinadine Zidane yang naskah otobiografinya raib sebelum sampai ke tangan penerbit. Dari dunia tulis menulis, ada otobiografinya Thomas L. Friedman yang terkenal dengan tulisannya ‘The World is Flat’. Juga ada ‘Istanbul’ karya Peraih Nobel Sastra tahun 2006 Orhan Pamuk yang berkisah tentang dirinya dan kota kelahirannya, Istanbul.

Otobiografi, tak pelak, sering ditemui tenggelam dalam alur ‘bukan apa-apa’ menjadi ‘apa-apa’. Terjebak dalam bisikan untuk mensucikan dan mengagungkan diri sendiri. Dan adalah Dr. Yusuf Qardhawi sosok yang memperoleh penghargaan sebagai Muslim Berkepribadian (Moslem Personality of The Year) dari DIHQA yang mengaku tidak terlalu tertarik untuk menuliskan pengalaman hidupnya sendiri meski sudah lama dan banyak ikhwan yang memintanya.

Menurut Dr. Yusuf Qardhawi, menulis otobiografi akan mendorong kita untuk membaguskan diri sendiri, mengagung-agungkan serta menghiasi diri sendiri di mata pembacanya. Hal ini bertentangan dengan firman Alloh dalam surat An Najam yang berbunyi “Dan janganlah kalian menyucikan diri kalian sendiri. Dia lah yang maha mengetahui orang-orang yang bertaqwa.”

Selain itu, beliau berpendapat bahwa penulisan otobiografi akan mendorong orang mengatakan kata ‘aku begini dan aku begitu’. Sedangkan kata ‘aku’ yang diucapkan oleh makhluk adalah kalimat yang dibenci dan merupakan awal kata buruk yang diucapkan Iblis. Sebagaimana dalam surat Al A’raf, Iblis mengatakan “Aku lebih baik darinya. Aku diciptakan dari api, dia diciptakan dari tanah.” Perkataan iblis inilah yang kemudian melahirkan ungkapan dalam masyarakat awam “Tidak ada yang memuji dirinya sendiri kecuali iblis.”

Ingat kata memuji dan mengagumi diri sendiri, kita akan langsung teringat kisah Narcissus yang juga dikisahkan dalam The Alchemist. Dalam novel karya Paulo Coelho ini, prolognya mengisahkan tentang sebuah danau yang menangis setelah Narcissus yang biasa menghabiskan hari-harinya berlutut di tepi danau untuk mengagumi bayangan dirinya, suatu pagi tiba-tiba jatuh dan tenggelam ke dalam Danau. Yang menarik adalah ternyata Danau tidak menangis karena kehilangan Narcissus. Sang Danau tersebut bahkan tidak tahu seperti apa keelokan Narcissus yang menghabiskan 24jam dalam sehari untuk mengagumi dirinya sendiri. Danau, ternyata, menangis karena sudah tidak bisa lagi menatap ke dalam mata Narcissus. Karena melalui kedua mata Narcissuslah Danau dapat melihat bayangannya sendiri.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.